16 Maret 2009

KOMPETENSI DAN PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENDUKUNG TERWUJUDNYA PERGURUAN TINGGI BERTARAF INTERNASIONAL

ABSTRAK
Komalasari, Rita. 2006. Peran pustakawan, semakin berkembang dari waktu ke waktu. 
Kini pustakawan tidak hanya melayani sirkulasi buku, tapi dituntut untuk dapat
memberikan informasi secara cepat, tepat, akurat dan efisien dari segi waktu dan biaya. 
Pustakawan dituntut untuk mengembangkan kompetensi yang ada dalam dirinya guna 
mendukung pelaksanaan program tridarma perguruan tinggi. Kompetensi dan peran 
pustakawan sangat berperan dalam mendukung tercapainya visi perguruan tinggi. Dalam 
tulisan ini dipaparkan dan dijelaskan hal-hal yang berkaitan dengan kompetensi dan peran 
pustakawan dalam mendukung terwujudnya perguruan tinggi bertaraf internasional. 
Dijelaskan pula permasalahan yang dihadapi pustakawan, analisis masalah, solusi serta 
upaya upaya yang harus dilakukan guna meraih tujuan dalam mendukung perguruan 
tinggi bertaraf internasional. 
PENDAHULUAN 
Latar Belakang 
Dalam menghadapi era globalisasi, tantangan yang dihadapi perguruan tinggi di
Indonesia, semakin besar dan kompleks, baik yang ditimbulkan oleh dinamika internal 
maupun eksternal. Perguruan tinggi harus terus berupaya mewujudkan visi, misi dan 
tujuannya dengan tetap berpijak pada akar budaya yang ada. Visi Universitas Indonesia 
(UI) adalah Menjadi Universitas Riset yang mandiri, modern, dan berkualitas 
internasional. Visi Institut Pertanian Bogor (IPB) adalah Menjadi perguruan tinggi 
bertaraf internasional dalam pengembangan sumberdaya manusia dan IPTEKS dengan 
kompetensi utama di bidang pertanian tropika. Visi Universitas Brawijaya adalah 
Menjadi universitas yang terkemuka dan mampu bersaing melewati batas wilayah 
nasional. 
Merujuk kepada visi perguruan tinggi yang umumnya ingin meraih taraf 
internasional, tentunya dibutuhkan kerjasama yang terarah, terencana, kooperatif, 
bersinergis dan berkesinambungan antara segenap sivitas akademikanya. Semua unsur 
harus terlibat dan dilibatkan dalam tatanan kebijakan sesuai tugas pokok dan fungsinya, Page 2

2
demi mencapai visi yang mulia tadi. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa perpustakaan 
adalah salah satu basis penyangga peradaban bangsa. Perkembangan jaman dan 
globalisasi telah memberikan dampak yang cukup positif terhadap aliran informasi. Agar 
tidak ketinggalan zaman dan bangsa ini menjadi lebih cerdas, mau tidak mau, 
perpustakaan sebagai gudang ilmu, sumber informasi harus dikelola dengan profesional 
agar mampu berkiprah di dunia internasional. 
Perpustakaan bagi perguruan tinggi/Institut/universitas/organisasi merupakan 
sarana penunjang yang sudah selayaknya diperhatikan dan ditangani dengan serius. 
Walaupun merupakan sarana penunjang, fungsi perpustakaan bagi 
perguruan 
tinggi/Institut/universitas/organisasi, sangatlah vital, seperti jantung di dalam tubuh 
manusia. Untuk membangun perpustakaan yang mampu bersinergi dengan perguruan 
tinggi dan sivitas akademikanya, dibutuhkan SDM dalam hal ini pustakawan yang 
profesional, yang memiliki etos kerja yang tinggi, jujur, berdedikasi, loyal serta 
mempunyai kemauan dan kemampuan untuk berkembang dan terus berupaya menimba 
ilmu sepanjang hayat. 
PUSTAKAWAN 
Pustakawan adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang diberi tugas, tanggung 
jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan 
kegiatan kepustakawanan pada unit-unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi
instansi pemerintah dan atau unit tertentu lainnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, 
Pustakawan diartikan sebagai orang yang bergerak di bidang perpustakaan; ahli 
perpustakaan (tanpa membedakan PNS ataupun Non PNS). Jabatan Fungsional 
Pustakawan telah diakui eksistensinya dengan terbitnya Keputusan Menteri Negara 
Pendayaan Aparatur Negara (MENPAN) Nomor 18 tahun 1988 tentang Jabatan 
Fungsional Pustakawan dan Angka kreditnya. Kemudian dilengkapi dengan Surat Edaran 
Bersama (SEB) antara Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian 
Negara Nomor 53649/MPK/1998 dan Nomor 15/SE/1998. Keputusan ini telah dua kali 
direvisi yaitu dengan terbitnya Keputusan Menpan Nomor 33 tahun 1988 dan terakhir
Keputusan Menpan Nomor 132/Kep/M.PAN/12/2002. Tujuan diciptakaannya jabatan Page 3

3
fungsional tersebut yaitu agar para pustakawan dapat meningkatkan karirnya sesuai 
dengan prestasi dan potensi yang dimilikinya. Saat ini jumlah tenaga fungsional 
Pustakawan yang terjaring pada pangkalan data Pusat Pengembangan Pustakawan 
sebanyak 2.814 orang yang tersebar di berbagai perpustakaan di Indonesia. 
(http://www.pnri.go.id/).
KOMPETENSI 
Kompetensi adalah kecakapan atau kemampuan. Konsep kemampuan 
mengandung suatu makna adanya semacam tenaga atau kekuatan yang dimiliki 
seseorang untuk melakukan sesuatu tindakan atau perbuatan baik yang bersifat fisik 
maupun yang bersifat mental. Pengertian ini menunjukkan pada adanya suatu kekuatan 
nyata yang dapat diperlihatkan seseorang melalui tindakan atau perbuatan, baik secara 
fisik maupun mental, yang umumnya diperoleh melalui latihan dan pendidikan. Dengan 
demikian hampir semua kemampuan diperoleh melalui latihan atau dipelajari. Dengan 
perkataan lain, kalau seseorang ingin memiliki kemampuan tertentu, ia dapat 
mempelajarinya. Kemampuan ini akan banyak membantu seseorang pada saat ia 
melaksanakan atau mengerjakan tugas tertentu. Kadang-kadang kemampuan secara fisik 
dan mental dapat muncul secara bersamaan pada saat mengerjakan suatu tugas 
(Klausmeier dan Goodwin), sedangkan arti kompetensi secara harfiah adalah kecakapan, 
kemampuan; wewenang (Kamus Inggris-indonesia). Definisi kompetensi yang sering 
dipakai adalah karakteristik-karakteristk yang mendasari individu untuk mencapai kinerja 
superior. Kompetensi juga merupakan pengetahuan, ketrampilan, dan kemampuan yang 
berhubungan dengan pekerjaan, serta kemampuan yang dibutuhkan untuk pekerjaan-
pekerjaan non-rutin. Terdapat bermacam-macam pendekatan mengenai model 
kompetensi. Salah satunya Competency-based HRM (manajemen SDM berdasarkan 
kompetensi). Intinya perilaku individu yang paling bagus kinerjanya dijadikan tolok ukur. 
Perilaku ini menjadi patokan baku yang menggerakkan program SDM untuk 
mengembangkan gugus kerja yang lebih efektif. Kompetensi ini diintegrasikan dalam 
sistem SDM. Pendekatan model kompetensi lainnya adalah pendekatan "organizational" 
yang berarti model kompetensi ditekankan dalam organisasi dengan tipe organisasi 
tertentu. Page 4

4
PERAN PUSTAKAWAN 
Peran pustakawan selama ini membantu pengguna untuk mendapatkan informasi 
dengan cara mengarahkan agar pencarian informasi dapat efisien, efektif, tepat sasaran,
serta tepat waktu. Dengan perkembangan teknologi informasi maka peran pustakawan 
lebih ditingkatkan sehingga dapat berfungsi sebagai mitra bagi para pencari informasi. 
Sebagaimana fungsi tradisionalnya, pustakawan dapat mengarahkan pencari informasi
untuk mendapatkan informasi yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan. Pustakawan 
dapat pula menyediakan informasi yang mungkin sangat bernilai, namun keberadaannya 
sering tersembunyi, seperti literatur kelabu (grey literature). Bahkan pustakawan dapat 
berfungsi sebagai mitra peneliti dalam melakukan penelitian. 
Merujuk hal tersebut di atas, jelas terlihat kaitan yang erat antara pustakawan 
sebagai pengelola informasi dengan perannya dalam menunjang tridharma perguruan 
tinggi. Selain melakukan layanan sirkulasi, pengadaan dan pengolahan bahan pustaka, 
pustakawan juga harus mampu mengelola laporan administrasi; mengelola Web-OPAC, 
melakukan pelestarian dokumen (diantaranya mengolah dokumen menjadi bentuk 
digital); mengelola layanan pinjam antar perpustakaan (PAP); melakukan kontrol 
keamanan bahan pustaka; mengelola layanan multi media (CD/DVD/Audio kaset/sinar
X dll.); mengelola dan mencetak barkod; mengelola keanggotaan pengguna, melakukan 
penyusunan anggaran; melakukan katalogisasi (pra dan pasca catalog); melakukan 
layanan SDI; melakukan konversi data; mengelola e-mail; membuat laporan; mengelola 
terbitan berseri dan melakukan tugas-tugas lainnya yang berkaitan dengan teknologi 
informasi.. Dalam melakukan tugas kesehariannya, pustakawan dituntut bekerja secara 
profesional, jujur, berdedikasi tinggi, kreatif dan inovatif. Sebagai tolok ukur 
profesionalisme, semua bukti kegiatan seyogyanya dituangkan dalam lembar kinerja 
yang menggambarkan produktivitas dan kinerjanya dari waktu ke waktu, setiap hari, 
setiap minggu dan setiap bulannya. Page 5

5
Dengan adanya lembar kinerja yang rutin diisi oleh pustakawan setiap harinya, 
mau tak mau, pustakawan terpacu untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. 
Laporan tersebut dapat menjadi indikator kinerja, produktifitas dan peran pustakawan 
dalam menjalankan profesinya. Peran pustakawan sebagai mitra bagi mahasiswa, dosen 
dan masyarakat sekitarnya, diakui semakin baik dari tahun-ke tahun. Hal ini tercermin 
dari semakin banyaknya pengguna yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan, baik
dokumen tercetak maupun elektronik, secara langsung datang ke perpustakaan ataupun 
tidak langsung (mencari literatur via e-mail atau menelusuri catalog on line). Sebagai 
contoh, statistik pengunjung perpustakaan IPB yang datang langsung ke perpustakaan 
pada tahun 1998 adalah 162.801 orang; tahun 1999 sebanyak 224.522 orang; tahun 2000 
sebanyak 255.463 orang, tahun 2004 sebanyak 272.302 orang dan tahun 2005 sebanyak 
248.084 orang. Dari data tersebut tampak adanya kecenderungan jumlah pengunjung 
yang meningkat dari tahun 1998 sampai dengan tahun 2005. Peningkatan jumlah 
pengunjung dapat menjadi salah satu indikator peningkatan mutu pelayanan yang terkait 
juga dengan kompetensi dan peran pustakawan dalam menjalankan tugas dan fungsinya. 
PERGURUAN TINGGI BERTARAF INTERNASIONAL 
Perguruan tinggi bertaraf internasional. Kata-kata itu sering didengungkan oleh 
pimpinan atau pejabat di lingkungan perguruan tinggi baik negeri maupun swasta. 
Sesungguhnya apa dan bagaimana sebuah perguruan tinggi dapat dikatakan bertaraf
internasional? Berikut ini kutipan dari sambutan rektor IPB pada upacara wisuda tahap III 
tahun akademik 2004/2005 di Graha Widya Wisuda, Bogor. ” Suatu perguruan tinggi
dapat disebut bertaraf internasional setidaknya harus memenuhi beberapa persyaratan, 
diantaranya adalah: 1) jumlah dosen yang bergelar doktor harus lebih dari 75%, 2) 
persentase mahasiswa pascasarjana harus sama dengan atau lebih besar dari 75% dari 
total mahasiswa di perguruan tinggi tersebut, 3) publikasi internasional yang diterbitkan 
oleh setiap staf pengajar per tahun minimal dua publikasi di jurnal terakreditasi secara 
internasional, 4) besarnya dana untuk kegiatan riset untuk setiap staf > USD 1300 per
tahun, 5) jumlah mahasiswa asing di perguruan tinggi tersebut minimal 5%, 6) Koneksi 
internet minimal 15 Mb dengan koneksi Wifi. Dengan kriteria tersebut maka jelas masih 
belum ada universitas di Indonesia yang dapat masuk kelas dunia”. Dari sambutan rektor Page 6

6
IPB tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk meraih visi perguruan tinggi bertaraf
internasional amatlah berat, dibutuhkan kerja keras dari berbagai fihak. Kesungguhan dan 
perhatian pemerintah di bidang pendidikan juga sangat menentukan keberhasilan 
pencapaian visi tersebut. Sarana dan prasarana pendidikan harus dikelola dengan baik, 
termasuk perpustakaan yang dikelola oleh pustakawan profesional. 
PERMASALAHAN 
Meningkatnya kebutuhan pengguna akan informasi yang akurat, bernilai, 
relevan, dan tepat waktu akan menghadapkan profesi pustakawan pada tantangan yang 
semakin berat dan kompleks. Sampai saat ini masih banyak terdengar keluhan sulitnya 
mendapatkan informasi yang tepat, akurat, relevan, murah dan cepat. Hampir seluruh 
dosen dan atau pengguna menginginkan informasi yang dibutuhkannya dapat diperoleh 
dengan cepat, tepat, akurat dan efisien, baik dari segi waktu dan biaya. Tingkat kenyaman 
pengguna dalam menikmati layanan informasi juga masih belum terpenuhi. Semuanya ini 
merupakan tantangan yang perlu segera dipikirkan dan disiasati dengan model 
pembaharuan dalam etos kerja dan kinerja pustakawan ke arah yang lebih “proaktif dan 
inovatif”. Konsekuensi logis dari tuntutan pembaharuan tersebut adalah melakukan 
pembenahan yang menyeluruh (holistic). Pustakawan dituntut agar dapat mengeksplorasi 
cara baru guna mengembangkan produk yang dapat ditawarkan ke pengguna untuk 
memperoleh akses informasi serta meningkatkan kualitas layanan untuk kepentingan 
pengguna. Sudah tiba waktunya, pustakawan yang profesional menyediakan jasa layanan 
prima. Perpustakaan, dalam upayanya mendukung Perguruan tinggi yang bertaraf
internasional, masih menghadapi kendala yang cukup kompleks dan beragam, mulai dari 
birokrasi yang rumit, SDM yang tidak profesional hingga pendanaan yang macet atau 
tersendat-sendat dalam setiap kegiatan pengembangan perpustakaan. Disamping 
permasalahan yang cukup kompleks tadi, hingga saat ini belum ada undang-undang 
mengenai sitem nasional perpustakaan. Undang-undang yang berfungsi sebagai payung 
hukum yang mengikat pemerintah dan warganegara dalam menatalaksana perpustakaan 
di seluruh Indonesia sebagai satu kesatuan sistem nasional. Sistem nasional perpustakaan 
yang berfungsi sebagai prasarana atau infrastruktur bagi pengelolaan dan wadah 
pendayagunaan seluruh sumber informasi untuk kepentingan masyarakat dalam rangka 
pembelajaran sepanjang hayat. Page 7

7
KOMPETENSI PUSTAKAWAN 
Untuk mengatasi permasalahan dan tantangan yang semakin berat dan kompleks, 
dalam mendukung terwujudnya perguruan tinggi bertaraf internasional, mau tidak mau 
pustakawan harus memiliki kompetensi profesional dan kompetensi pribadi. Dalam 
membangun kompetensi profesional, seorang pustakawan harus: 
* Mengembangkan dan mengelola layanan informasi yang nyaman, mudah diakses, 
efektif dari segi biaya, yang sejalan dengan arahan strategis institusi/organisasi; 
Contoh: 
Menyusun dan mengembangkan rencana strategis yang sesuai dengan tujuan 
institusi/organisasi. Memperhatikan kebutuhan dan mau mendengarkan aspirasi 
pengguna untuk terciptanya suasana belajar yang kondusif dan nyaman. 
* Memiliki keahlian tentang isi sumber-sumber informasi, termasuk kemampuan untuk
mengevaluasi secara kristis dan menyaringnya; Contoh: 
Memantau perkembangan informasi global, memilih, menyaring dan mampu 
menyeleksi informasi yang relevan dan up to date bagi kepentingan pengguna. 
* Memiliki pengetahuan/ketrampilan khusus dalam bidang tertentu, sesuai dengan
kepentingan institusi/organisasi; Contoh: 
Pustakawan harus berani mengambil kursus/pelatihan di bidang Pusdokinfo, 
manajemen, atau subyek lain yang berkaitan dengan institusi atau organisasi tempat 
mereka bekerja. 
* Menyediakan pengajaran dan dukungan yang baik untuk pemakai perpustakaan dan 
layanan informasi; Contoh: 
Memberikan informasi tentang penggunaan fasilitas perpustakaan dengan baik (user 
education), membuka layanan informasi dan menjalin komunikasi dengan pengguna 
Menyediakan bantuan dan referensi secara on-line. 
* Menilai kebutuhan pemakai, merancang serta memasarkan produk dan layanan 
informasi bernilai tambah untuk memenuhi kebutuhan tersebut; Contoh: 
Melakukan penilaian kebutuhan secara. Rutin, menggunakan instrumen penelitian 
seperti kuesioner, wawancara dengan pengguna dan narasumber. 
* Menggunakan teknologi informasi yang tepat untuk pengadaan, pengolahan, dan Page 8

8
penyebaran informasi; Contoh: 
Membuat katalog koleksi perpustakaan secara on-line (OPAC). Menghubungkan 
penelusuran katalog dengan layanan pengiriman dokumen. Bekerja sama dengan tim 
manajemen informasi untuk memilih piranti lunak dan piranti keras yang tepat untuk
akses komputer ke katalog perpustakaan dan pangkalan data lainnya. 
* Menggunakan pendekatan bisnis dan manajemen yang tepat untuk 
mengkomunikasikan pentingnya layanan informasi kepada fihak pimpinan; Contoh: 
Mengembangkan rencana bisnis untuk perpustakaan. Menghitung pengembalian 
investasi untuk perpustakaan dan layanannya. Mengembangkan rencana pemasaran 
untuk perpustakaan. Melaporkan kepada manajemen mengenai usaha perbaikan 
kualitas secara terus menerus. Menunjukkan bahwa perpustakaan dan layanan 
informasi dapat menambah nilai organisasi. Berkompetensi sebagai sumber daya
manajemen berkualitas bagi organisasi. 
* Mengembangkan produk informasi khusus untuk penggunaan di dalam atau di luar 
institusi/organisasi atau pengguna secara perorangan; Contoh: 
Membuat pangkalan data dokumen internal seperti laporan, panduan teknis atau 
bahan-bahan yang digunakan untuk proyek-proyek khusus. Membuat agar file
dokumen lengkap mudah ditelusur. Menyediakan panduan teknis on-line. Membuat 
situs dalam jaringan. Web institusi/organisasi dan menghubungkannya dengan situs 
lain dalam internet. Berpartisipasi dalam kegiatan manajemen untuk menciptakan, 
menangkap, mempertukarkan, menggunakan, dan mengkomunikasikan modal 
intelektual institusi/organisasi 
* Secara terus menerus memperbaiki layanan informasi untuk merespon perubahan 
kebutuhan pemakai; Contoh: 
Memantau arah gejala industri dan penyebaran informasi untuk orang-orang penting 
dalam institusi/organisasi atau klien secara perorangan. Memfokuskan kembali
layanan informasi sesuai kebutuhan baru dalam bisnis. Melakukan pengiriman 
dokumen tepat waktu untuk mencapai fleksibilitas maksimal. 
* Menjadi anggota dari tim manajemen senior dan konsultan untuk organisasi dalam hal
informasi yang efektif; Contoh: 
Berpartisipasi dalam perencanaan strategis dalam organisasi. Berpartisipasi dalam 
studi informasi dan tim teknis. Menginformasikan kepada manajemen mengenai 
masalah hak cipta dan kesesuaiannya dengan hukum hak cipta. Negosiasi kontrak Page 9

9
dengan penyedia pangkalan data. Memperoleh informasi paten. Mengembangkan 
kebijakan informasi untuk institusi/organisasi. 
Dalam membangun kompetensi pribadi, seorang pustakawan harus: 
* Memiliki pandangan jauh dan luas ke depan; Contoh: 
Memahami bahwa pencarian informasi dan penggunaannya sebagai bagian dari 
proses kreatif bagi individu dan organisasi. Memandang perpustakaan dan layanan 
informasi sebagai bagian dari sebuah proses lebih besar dalam membuat keputusan. 
Memantau arah gejala bisnis utama dan peristiwa-perjstiwa internasional. 
Mengantisipasi arah gejala dan secara proaktif mengatur kembali perpustakaan dan 
layanan informasi untuk mengambil manfaat daripadanya. 
* Melayani pengguna dengan baik, santun dan ramah; Contoh: 
Mencari umpan balik kinerja dan menggunakannya untuk perbaikan secara terus 
menerus. Melakukan kajian pemakai secara rutin. Berbagi pengetahuan baru dengan 
orang lain dalam konferensi atau literatur profesional. Tetap bersikap santun dan 
ramah kepada pengguna walau, dalam kondisi yang melelahkan. 
* Mencari tantangan dan melihat peluang baru, baik di dalam maupun di luar 
perpustakaan; Contoh: 
Ambil kompetensi baru dalam organisasi yang memerlukan seorang pemimpin 
informasi. Gunakan pengetahuan dan keahlian perpustakaan untuk memecahkan
berbagai masalah-masalah informasi dalam arti luas. Ciptakan perpustakaan tanpa 
dinding (perpustakaan digital atau perpustakaan virtual) 
* Bekerja sama dan beraliansi; Contoh: 
Menjalin aliansi dengan profesional sistem informasi manajemen. Membangun kerja
sama dengan perpustakaan atau layanan informasi lain, baik di dalam maupun di luar 
organisasi untuk mengoptimalkan resource sharing. Menjalin aliansi dengan pemilik 
pangkalan data dan penyedia informasi lain untuk meningkatkan produk dan layanan. 
Menjalin aliansi dengan peneliti fakultas ilmu perpustakaan dan informasi untuk 
melakukan kajian-kajian yang terkait. 
* Menciptakan lingkungan yang saling mempercayai dan saling menghargai; Contoh: 
Menghargai kelebihan dan kemampuan orang lain. Mengenali kekuatan sendiri dan 
kekuatan orang lain dengan seimbang. Membantu orang lain untuk mengoptimalkan 
kontribusi mereka. Page 10

10
* Memiliki keahlian berkomunikasi yang efektif; Contoh: 
Mempresentasikan gagasan secara jelas dan antusias. Menulis teks secara jelas dan 
mudah dimengerti. Menggunakan bahasa yang umum. Meminta umpan balik dalam 
keahlian berkomunikasi dan menggunakannya untuk perbaikan diri. 
* Bekerja dengan baik dengan sesama anggota tim; Contoh: 
Mempelajari kebijaksanaan tim dan mencari peluang untuk partisipasi tim: Ambil 
tanggung jawab dalam tim, baik di dalam maupun di luar perpustakaan. Membimbing 
anggota tim lainnya. Meminta bimbingan dari anggota tim lain bila diperlukan. 
* Mempunyai sifat pemimpin; Contoh: 
Mempelajari dan mengembangkan kualitas seorang pemimpin yang baik dan 
mengetahui cara untuk melatih kepemimpinan tersebut. Dapat membagi kompetensi 
kepemimpinan dengan yang lain dan memberikan kesempatan orang lain untuk 
berkompetensi sebagai pemimpin. 
* Belajar terus menerus dan mempunyai perencanaan karir pribadi. Contoh: 
Meniti karir dengan belajar secara terus menerus dan mengembangkan pengetahuan. 
Memiliki tanggung jawab pribadi untuk perencanaan karir jangka panjang dan 
mencari kesempatan untuk belajar dan memperkaya i1mu. 
* Memahami nilai solidaritas dan jaringan profesional; Contoh: 
Berkompetensi aktif dalam asosiasi Pustakawan dan asosiasi profesional lainnya. 
Menggunakan peluang ini untuk berbagi pengetahuan dan keahlian, untuk studi 
banding dengan penyedia layanan informasi lainnya, membentuk kemitraan dan 
aliansi. 
* Bersifat fleksibel dan positif menghadapi perubahan terus menerus; Contoh: 
Dapat menerima tanggung jawab yang berbeda dalam waktu yang berbeda pula dan 
merespon kebutuhan akan perubahan. Memelihara sifat positif dan membantu orang 
lain untuk melakukan hal yang sama. Menolong orang lain untuk mengembangkan 
gagasan mereka dengan cara menyediakan informasi yang benar. Page 11

11
SOLUSI 
Dengan membagun/mengembangkan kompetensi profesional dan kompetensi 
pribadi, pustakawan diharapkan mampu menjadi mitra sejati bagi para dosen dalam 
mengembangkan karirnya menuju tingkat akademis yang lebih tinggi (tingkat doctoral), 
disamping itu, pustakawan juga harus proaktif mencarikan solusi bagi dosen yang ingin 
membuat artikel/tulisan di jurnal internasional, dengan cara membantu menyediakan 
bahan pustaka yang diperlukan dalam penulisan artikel tersebut. Untuk meraih perguruan 
tinggi bertaraf internasional tentunya harus ada kerjasama yang harmonis antara 
pemerintah dan institusi terkait, dalam hal ini pendanaan untuk penelitian berstandar 
internasional (USD 1300 per tahun) harus direalisasikan. Peningkatan SDM pengajar 
diharapkan juga mampu membuka peluang pengembangan program-studi pasca dari 
berbagai disiplin ilmu, sehingga minat masyarakat untuk meneruskan kuliah pasca 
sarjana semakin meningkat. Sarana dan prasarana pendidikan (termasuk perpustakaan), 
harus benar-benar diperhatikan dengan serius, karena hal ini juga menjadi modal dan 
daya tarik bagi calon mahasiswa (terutama untuk menarik minat mahasiswa asing). 
Kerjasama yang baik antara perguruan tinggi di dalam dan luar negeri juga harus terjalin
dengan erat. Dengan adanya program pertukaran mahasiswa, membuka peluang dan 
kesempatan bertukar pengalaman, wawasan dan pengetahuan bagi mahasiswa. Program 
pertukaran mahasiswa dalam dan luar negeri, dapat meningkatkan statistik mahasiswa
asing yang belajar di perguruan tinggi di dalam negeri. Satu hal yang patut diperhatikan
dan menjadi dasar keberhasilan pembangunan adalah kesejahteraan. Kesejahteraan dari 
staf pengajar (dosen) dan staf penunjang (pustakawan) harus benar-benar ditingkatkan. 
Karena tidak dapat dipungkiri tingkat kesejahteraan menjadi salah satu faktor penetu 
dalam bekerja dan berkarya. Kesemuanya itu seperti rantai yang saling terkait satu sama
lainnya, keberhasilan pencapaian visi harus ditunjang oleh berbagai fihak disertai dengan 
kemauan dan kesungguhan dalam pelaksanaanya. Page 12

12
KESIMPULAN 
Dengan adanya keselarasan semua unsur tadi (profesionalisme SDM, sarana dan 
prasarana yang moderen, pendanaan yang cukup disertai kesejahteraan yang memadai) 
dapat diyakini, visi perguruan tinggi mencapai taraf internasional akan tercapai.
Kompetensi pustakawan jika dibangun dan diasah dengan baik, maka akan dapat 
membantu mewujudkan Perguruan tinggi bertaraf internasional. Memang tidak mudah, 
meraih semua itu, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya harus 
diusahakan dan diperjuangkan, dibutuhkan waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit 
untuk mewujudkan visi perguruan tinggi melalui kompetensi dan peran pustakawan. 
Iklim sosial politik dan kesungguhan Pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa 
melalui pemebelajaran sepanjang hayat perlu ditingkatkan. Sarana dan prasarana 
pendidikan, salah satunya perpustakaan harus dibenahi dari segenap aspek. SDM 
perpustakaan/pustakawan dituntut memiliki pandangan jauh ke masa depan, namun tetap
berpijak pada akar budaya yang ada. Pustakawan harus mampu menjembantani 
peradaban di masa lampau, masa kini dan masa mendatang Tantangan yang digambarkan 
oleh kompetensi ini harus diraih dan dilakukan saat ini agar visi menjadi perguruan tinggi 
bertaraf internasional dapat tercapai dalam kurun waktu yang telah ditentukan. 
SARAN 
Agar peran pustakawan dalam membantu mewujudkan visi perguruan tinggi dapat 
tercapai sesuai dengan waktu yang telah ditargetkan, dibutuhkan kerjasama yang 
harmonis, terarah dan terpadu dari berbagai fihak, mulai dari pucuk pimpinan hingga
bawahan (grass root). Diperlukan perjuangan dengan segenap upaya untuk memperbaiki 
kekurangan dan kelemahan yang ada. Peran dan kompetensi pustakawan harus lebih 
ditingkatkan dengan memperhatikan kepentingan pengguna dan terus mengikuti 
perkembangan zaman. Upaya-upaya yang perlu dilakukan yaitu: 
• Penerapan disiplin yang tinggi, dimulai dengan sistim kehadiran. Sudah 
waktunya staf pengajar dan staf penunjang menerapkan sitim kehadiran dengan 
menggunakan komputer dan atau finger print. Hal ini merupakan salah satu 
upaya untuk meningkatkan kedisiplinan staf; 
• Seyogyanya, dalam melaksanakan kegiatan, ada deskripsi kerja yang jelas 
(Tupoksi: tugas pokok dan fungsi). Hal ini penting agar setiap individu dapat Page 13

13
melaksanakan kegiatan kerja secara terarah, sesuai dengan wewenang dan 
tanggung jawabnya;
• Perbaikan pendidikan (formal maupun non formal). Program ini penting 
dijalankan untuk meningkatkan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan 
pegawai dalam menjalankan tugasnya. Perbaikan pendidikan juga sangat 
mendukung perbaikan kinerja yang pada akhirnya dapat membantu perguruan 
tinggi dalam mewujudkan visinya; 
• Political will pemerintah untuk menginternasionalkan Perguruan Tinggi Indonesia
harus ditunjang dengan perangkat/peraturan pemerintah yang mendukung segenap 
aspek (ketersediaan dana, kemudahan pertukaran mahasiswa dalam dan luar 
negeri, perundang-undangan perpustakaan, SDM yang professional dan jujur); 
• Perlunya dilakukan pemetaan dan analisis terhadap program-program yang 
sedang berjalan dan akan dikembangkan, hal ini penting sebagai dasar penetuan 
kebijakan yang akan diambil; 
• Adanya standar prosedur kegiatan (Standard Operation Procedur) di setiap 
unit/badan/lembaga/organisasi/institusi. Hal ini penting agar setiap kegiatan 
mempunyai arah dan tujuan yang jelas; 
• Terciptanya suasana kerja yang kondusif. Hal ini penting demi terciptanya 
suasana kerja yang nyaman, sehingga diharapkan kinerja dan produktifitas 
pegawai dapat lebih baik lagi; 
• Perlunya meningkatkan kecerdasan emosi dan spiritual (Emotional and spiritual 
quotient). Hal ini penting untuk membentuk pribadi-pribadi yang tangguh, jujur, 
disiplin, loyal, penuh dedikasi dan berjiwa sosial tinggi. Pribadi seperti itulah 
yang dapat menjadi modal dasar dalam mewujudkan visi perguruan tinggi yaitu 
mencapai taraf internasional, namun tetap memiliki kepribadian Indonesia yang
luhur; 
• Perhatian terhadap perpustakaan harus ditingkatkan, dengan menerbitkan 
Undang-undang tentang sistem nasional perpustakaan Indonesia, Undang-undang 
ini penting dan dapat berfungsi sebagai payung pelindung dan pengikat 
pemerintah dan masyarakat demi terwujudnya masyarakat yang cerdas dan 
berkebudayaan;Page 14

14
• Pembentukan Dewan Perpustakaan yang akan mengarahkan pembinaan, 
pembangunan dan pengembangan perpustakaan di Indonesia
• Kesejahteraan staf pengajar dan pustakawan, selayaknya diperhatikan dengan 
serius dan berpijak pada unsur keadilan, sehingga terjadi hubungan kerja yang 
harmonis antara dosen dan pustakawan; 
• Seyogyanya saran-saran di atas, diaktualisaikan dan diaplikasikan secara 
bertahap, berkesinambungan, arif dan bijaksana. Sehingga tujuan dan cita-cita 
bersama yaitu mewujudkan perguruan tinggi bertaraf internasional dapat tercapai.Page 15

15
DAFTAR PUSTAKA 
Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta: 
Balai Pustaka. 1989. 
Echols, John M. dan Hassan Shadily. Kamus Inggris-Indonesia. Jakarta : Gramedia. 
2000.
http://www.growthcompusoft.com/librarysoftware.in/librarian/management Diakses 22 
Maret. 2006
Indonesia. Perpustakaan Nasional. http://www.pnri.go.id/. Diakses tanggal 23 Maret 
2006. 
Indonesia. Perpustakaan Nasional. Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka 
Kreditnya. Perpustakaan Nasional RI. 2004. 
Institut Pertanian Bogor. http://www.iel.ipb.ac.id. Diakses 23 Maret. 2006. 
Klausmeier, J. Herbert and William Goodwin. Learning and Human Abilities, 
Educational Physiology. 4
th
ed. New York: Harper and Row Publisher. 1975 
Komalasari, Rita. Membangun Sumber Daya Manusia IPB di Era Otonomi Untuk 
mencapai Visi dan Misi IPB. UPT Perpustakaan. Institut pertanian Bogor.
2001. 
Lien, Diao Ai. Peranan Perpustakaan dalam Meningkatkan Daya saing Perguruan 
Tinggi. Kerjasama Forum PPTI-Perpustakaan Nasional RI-Universitas 
Tarumanegara. 2002 
Marshall, Joane; Linda Moulton; Roberta Piccoli. Kompetensi Pustakawan khusus di 
Abad ke-21. BACA. Jurnal Dokumentasi dan Informasi vol. 27 (2), 2003. 
Perpustakaan Nasional RI. Naskah Akademik Rancangan Undang-undang 
Perpustakaan, 2006. 
Susanto, A.B. 
COMPETENCY-BASED HRM. 
Bisnis Indonesia. 
http://www.jakartaconsulting.com/extra_corner_archive12.shtml. diakses 3 
April 2006.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar