16 Maret 2009

Unpad Peduli untuk Tingkatkan Profesionalisme Pustakawan 23 Oktober 2008

Dra. Musyarafah, M.Si; Drs. Agus Rusmana, M.Lib. (moderator); Dr. Harkrisyati Kamil, serta Drs. Pepih Nugraha, tampil dalam Seminar “Peran Serta Ilmu Informasi & Perpustakaan dalam Penataan Diri untuk Meraih Kualitas Unggul”, di Grha Sanusi Hardjadinata Unpad, Bandung.

Dalam rangka meningkatkan dan meraih kualitas unggul, Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “Peran Serta Ilmu Informasi dan Perpustakaan dalam Penataan Diri untuk Meraih Kualitas Unggul”. Seminar yang juga disertai acara Temu Alumni tahun 1985-2004 ini diselenggarakan pada hari Kamis (23/10), di Grha Sanusi Hardjadinata, Unpad Jalan Dipati Ukur Bandung.

Acara ini menghadirkan tiga pembicara di antaranya Dra. Musyarafah, M.A., Drs. Pepih Nugraha, dan juga Dra. Harkrisyati Kamil. Melalui kesempatannya menyampaikan materi seminar, Dra. Musyarafah, M.A. banyak memotivasi para peserta untuk selalu berupaya lebih maju. Wanita berjilbab ini juga menyatakan bahwa hasil survei membuktikan sebanyak 50,3% penduduk Indonesia adalah educated unemployment, artinya banyak dari penduduk Indonesia berpendidikan tetapi pengangguran.

“Sebagai seorang yang berpendidikan kita tidak harus hanya bekerja untuk orang lain saja, tetapi kita juga harus bisa menciptakan pekerjaan untuk diri kita sendiri,” ujar Musyarafah. Wanita berparas cantik ini juga menegaskan bahwa setiap orang harus sudah siap untuk berbagai kemungkinan, termasuk untuk selalu meningkatkan marketing dalam hal apapun. Bahkan ‘menjual’ diri sendiri dalam arti menjual kemampuan dan keahlian masing-masing.

Pembicara lainnya, Dra. Harkrisyati Kamil memberikan materi seminar mengenai “Pendidikan Ilmu Perpustakaan dan Informasi sebagai Gerbang Menuju Profesionalisme Pustakawan”. Kepada para peserta seminar yang juga diikuti oleh mahasiswa Ilmu Perpustakaan ini, ia menyampaikan bahwa pencitraan tentang ilmu perpustakaan sangatlah penting. “Sebagai seorang pustakawan kita harus menjadi Smart Librarian yang bangga akan dirinya dan profesional, karena sarjana Ilmu Perpustakaan sekarang ini masih bisa dihitung dengan jari,” tuturnya.

Selanjutnya, wanita yang akrab dipanggil Yati ini menyatakan bahwa jika ingin disebut sebagai “pustakawan profesional” setidak-tidaknya harus menjadi sarjana. Selain itu, pustakawan di zaman sekarang erat kaitannya dengan teknologi informasi atau IT yang harus dikuasai. Ia juga mengharapkan agar generasi muda bangga menjadi pustakawan, karena pustakawan identik dengan informasi, dan informasi kaitannya sangat luas di segala bidang.

Lebih jauh Yati menjelaskan bahwa kompetensi yang tidak kalah penting dalam menjalani profesi sebagai pustakawan adalah behaviour competence, yaitu berkaitan dengan jati diri. Pustakawan tidak harus duduk di belakang meja saja, namun mereka harus punya interpersonal skill. Selain kompetensi di atas, untuk mengubah citra pustakawan harus dimulai dari diri sendiri. Di akhir penuturannya, wanita yang tergabung dalam Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia ini berpesan bahwa para lulusan ilmu perpustakaan harus bangga menjadi seorang pustakawan, karena menjadi pustakawan adalah pekerjaan yang mulia.

Dalam sesi diskusi yang hangat dan banyak tanggapan dari peserta, Drs. Pepih Nugraha yang juga sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan, menyampaikan kepada seluruh peserta seminar bahwa sebaiknya sebagai seorang calon sarjana, khususnya sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan, jangan mempersempit diri sendiri. “Bagi lulusan sarjana Ilmu Perpustakaan, menjadi pustakawan bukanlah satu-satunya profesi yang ada,” ujarnya.

Laki-laki yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Pelaksana Online Harian Umum Kompas ini juga mengatakan bahwa peluang untuk sarjana Ilmu Perpustakaan tidak hanya di perpustakaan saja. Ia menambahkan bahwa di zaman sekarang ini, tidak perlu takut dengan IT (information technology), karena sekarang ini sudah menghadapi dunia digital, dan Google atau internet adalah perpustakaan besar yang sifatnya maya.

Di akhir sesi Dra. Musyarofa mengatakan, “Apabila kita menganggap diri kita sendiri penting, maka kita juga akan dianggap penting oleh orang lain.” Ia pun siap membuka kesempatan sharing bagi siapapun, terutama dalam hal enterpreneur. (ing & www)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar