16 Maret 2009

Tantangan baru dunia kepustakawanan : Menuju masa depan yang berubah

Perpustakaan, pustakawan dan kemajuan jaman 
Pustakawan sekarang ini boleh mengatakan bahwa pekerjaan mereka tidak sekedar 
menata buku tetapi memberikan akses informasi kepada masyarakat dalam berbagai 
format. Karena pustakawan—seperti halnya orang lain—yakin bahwa dunia 
perdagangan, komunikasi dan informasi sudah beralih ke format digital, mereka berjuang 
memberikan akses internet—untuk mencegah agar tidak dianggap menjadi masyarakat 
kelas-dua dalam dunia digital. 
Suatu keanehan timbul dalam perjalanan menuju perpustakaan digital masa mendatang. 
Bukannya menjadi penjaga kunci database pengetahuan universal, pustakawan semakin 
mendapati diri mereka berada dalam peran yang berlebihan dan tidak diduga-duga
sebelumnya: mereka menjadi penyedia layanan dukungan teknologi yang ada pada urutan 
bawah 
Seharusnya memang tidak demikian. Perpustakaan masa kini menyediakan berbagai 
media dan kegiatan sosiokultural—menjadi “blended libraries” menurut Kathleen Imhoff, 
asisten direktur Broward County Library of Fort Lauderdale. Florida. Ada kecenderungan 
bahwa perpustakaan mulai menyembunyikan bukunya di belakang dan menempatkan 
komputer di bagian depan agar sense of atau rasa teknologi muncul dalam dunia
perpustakaan. Ada juga perpustakaan yang saat ini lebih banyak menyediakan anggaran 
untuk koleksi digital dari pada koleksi cetak. Tidak hanya itu perpustakaan juga
berlomba-lomba menyediakan layanan yang semakin bertambah seperti layanan akses Page 2

internet, layanan multimedia dan sebagainya. Namun demikian, masih ada juga 
perpustakaan-perpustakaan yang menyediakan buku-buku yang serba sedikit dan dengan 
fasilitas yang sangat minimal pula. Namun kedua macam perpustakaan tersebut sama-
sama lakunya, hanya pasarnya berbeda. 
Apa yang menarik dari fenomena tersebut adalah: terjadinya digital divide. Ada gap
teknologi antara satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya. Demikian pula di sisi 
pemakainya. Digital divide atau perbedaan kemampuan pemanfaatan teknologi informasi
terjadi pada saat ini antara satu orang dengan orang lain tanpa batasan usia maupun 
profesi.. 
Setiap ada seminar atau pelatihan bertemakan perpustakaan digital, sering timbul keluhan 
dari peserta bahwa mereka tidak memiliki akses terhadap teknologi informasi atau
mereka tidak memiliki fasilitas teknologi informasi tersebut. Hal ini menggambarkan 
bahwa ada gap pula di antara para pemikir dan pengembang perpustakaan bahwa di
antara para pustakawan sendiri juga terjadi gap kemampuan teknologi informasi. 
Gambaran yang menarik dan perlu dicermati adalah adanya beberapa pustakawan yang 
kemudian menyikapi perkembangan teknologi informasi ini sebagai suatu lahan baru 
dalam pengembangan perpustakaan. Ada pustakawan yang mengembangkan software
perpustakaan yang sudah ada dan kemudian dipasarkan ke perpustakaan; ada pustakawan 
yang membuat software dan memasarkan kepada perpustakaan. Ada pula yang melihat 
teknologi informasi sebagai suatu hal yang HARUS dimiliki untuk mengubah image
perpustakaan. Tidak kalah penting juga untuk dicermati oleh para pengajar bidang ilmu 
perpustakaan adalah munculnya perpustakaan digital. Para pustakawan kadang-kadang 
tidak dapat membedakan antara automasi perpustakaan dengan perpustakaan digital 
sehingga automasi sering diidentikkan dengan perpustakaan digital. Tugas para pengajar 
bidang ilmu perpustakaan adalah meluruskan kembali peran pustakawan sebagai penjaga
informasi dan ilmu pengetahuan. Demikian halnya para mahasiswa di bidang ilmu
perpustakan perlu mencermati kembali perkembangan-perkembangan yang terjadi saat 
ini dan mgenevaluasi diri dimana posisi diri sendiri tersebut. Page 3

Barangkali akan sangat penting bagi para akademisi di kampus untuk memikirkan 
kembali peran pustakawan dalam bidangnya dan meningkatkan image perpustakaan 
sehingga akan lebih banyak orang memanfaatkan perpustakaan. 
Ada beberapa tantangan dalam dunia kepustakawanan yang saat ini muncul. Tantangan 
tersebut dapat memacu maupun menghambat perpustakaan di Negara ita: 
Tantangan pertama: Web 2.0 
Saat ini pemanfaatan internet telah sangat banyak. Bahkan dalam suatu survey, terlihat 
anak-anak sekarang akan memprioritaskan internet sebagai alat Bantu dalam 
menyelesaikan tugas-tugas sekola ataupun perkuliahannya. Dengan kata lain, internet 
telah menjadi fasilitas utama penunjang pendidikan dan mengesampingkan adanya 
perpustakaan. Fenomena ini juga semakin terlihat di Indonesia dimana semakin bangak 
anak-anak yang menggunakan internet sebagai alat Bantu untuk menyelesaikan tugas 
atau pekerjaan rumah. 
Sementara itu, internet pun juga terus berkembang dan saat ini masyarakat telah banyak 
memanfaatkan web 2.0 sebagai suatu media untuk berkomunikasi dan berbagi 
pengalaman dan cerita, berbagi gambar, berbagi audio dan sebagainya*. 
Sebagian perpustakaan juga telah mulai menerapkan web 2.0 agar fasilitas dan informasi 
mereka dapat dengan mudah diketahui oleh para penggunanya. Web 2.0 merupakan 
pengembangan internet sebagai media untuk bersosialisasi dengan sesame serta untuk 
berbagi. Dalam kaitan dengan perpustakaan, web 2.0 dapat digunakan misalnya untuk 
lebih menjelaskan tentang isi katalog. Dengan berbasis web 2.0 maka katalog yang 
dulunya hanya berisi informasi serba sedikit tentang sebuah buku, kini informasinya jauh 
lebih bermanfaat dari sebelumnya, karena katalog ini dilengkapi dengan daftar isi buku, 
review dan lain sebagainya; bahkan orang yang pernah membaca buku tersebut dapat 
pula menambahkan informasi tentang buku tersebut. Page 4

walaupun saat ini para pustakawan Indonesia masih berbicara tentang perpustakaan 
digital** dengan berbagai seluk beluknya dan semoga dalam waktu yang tidak terlalu 
lama akan pula masuk dalam kancah web 2.0 dan library 2.0. Dan tentu saja masih ada 
berbagai kemajuan web 2.0 yang dapat diterapkan di perpustakaan. 
Untuk dapat maju dan sejajar dengan para pustakawan di negara lain, kita harus berani 
tampil dalam dunia kepustakawanan yang berwawasan multidisiplin dan multi-skills.
Tantangan kedua: peran-peran baru kepustakawanan 
Beberapa waktu yang lalu saya sempat bertemu dengan Jeffrey Trzeciak, kepala 
Perpustakaan McMaster University. Saya bertemu beliau dalam suatu forum di China.*** 
Beliau mengatakan telah mengangkat 7 pustakawan baru yaitu (1) gaming librarian, (2) 
digital strategist, (3) digital technologist, (4) e-resources librarian, (5) archivist librarian, 
(6) marketing and communication librarian, (7) teaching and learning librarian. Ketujuh 
posisi tersebut dijabat oleh para pustakawan dan berlatar belakang pustakawan juga. 
Bagaimana dengan kita? Beranikah kita merancang peran-peran baru dalam
kepustakawanan? Ataukah kita akan tetap terbelenggu dengan rutinitas sesuai yang 
tertulis pada jabatan fungsional pustakawan?
Tantangan ketiga: masyarakat yang alliterate 
Tantangan ketiga merupakan tantangan klasik yang terutama kita hadapi dalam dunia 
sehari-hari. Walaupun selalu saja banyak perpustakaan mengatakan bahwa perpustakaan 
mereka selalu ramai dikunjungi oleh para pemakainya, namun perlu ditelusuri lebih 
lanjut, berapa persen dari masyarakat tersebut yang telah memanfaatkan perpustakaan. 
Angka statistic yang besar tidak akan ada artinya bila pembaginya sangat besar. 
Pengembangan minat baca memang harus dilakukan dari kecil dan jangan sampai 
terputus di tengah jalan. Untuk itulah kita perlu memikirkan juga para pustakawan yang 
bekerja di sekolah-sekolah (SD, SMP, dan SMA) agar perjuangan mereka bisa lebih 
diargai dan mendapatkan apresiasi yang lebih baik lagi. Usia sekolah merupakan critical 
ages untuk mengembangkan minat baca, sehingga pustakawan harus mendapatkan 
dukungan dalam rangka meningkatkan minat baca tersebut. UNESCO telah Page 5

mengeluarkan berbagai bacaan tentang literasi yang sangat baik untuk dipelajari oleh 
para pustakawan.**** 
Tantangan keempat: membangun pustakawan yang komunikatif dan 
berpengetahuan 
Tantangan ini ada di dunia kampus dan setelahnya. Para pengajar dan pembelajar akan 
sangat baik kalau bisa mempertimbangkan para calon pustakawan tersebut tidak hanya 
memiliki ketrampilan dalam bidangnya saja, tetapi juga mampu berbicara pada forum-
forum yang mungkin berawal dari kampus dan kemudian masuk ke tingkat lokal, 
nasional dan internasional. Sasya merasakan betapa sedikitnya pustakawan kita yang 
berperan serta dalam kancah internasional. Dua kali saya mempresentasikan makalah di 
konferensi perpustakaan internasional yang diselenggarakan di Malaysia, tetapi tak satu 
pun pustakawan Indonesia mengikutinya. Juga di forum IFLA, misalnya, lebih berperan 
sebagai peserta dan itupun didominasi oleh Perpustakaan Nasional, sedangkan presenter 
dari Indonesia hanya satu.orang saja. Pada pertemuan kongres internasional ALA dua 
bulan lalu beberapa pustakawan ramai ramai menulis satu makalah yang lolos karena 
penulis utamanya adalah orang Amerika sendiri. 
Penutup 
Singkatnya, para pustakawan saat ini dihadapkan pada suatu wacana digital yang mana
pustakawan tidak boleh terjebak sebagai seorang ahli atau teknisi dalam dunia 
informatika. Pustakawan adalah pustakawan—hanya saja saat ini memiliki peran yang 
lebih besar karena adanya kemajuan dalam teknologi informasi. 
Selain itu, tantangan-tantangan baru seperti hadirnya web 2.0 yang diikuti dengan library 
2.0 serta tantangan lain: peran baru pustakawan, aliterasi di masyarakat, dan pustakawan 
yang harus komunikatif dan sejajar dengan profesi lainnya haruslah menjadi tantangan 
yang perlu direspon secara positif oleh para pustakawan di masa mendatang. 
Selamat mengikuti pendidikan kepustakawanan dan tunjukkan diri kita sebagai 
pustakawan yang berani tampil beda


Reference notes: 
* Pattern, Dave. 2006. Introduction to Web 2.0 and Library 2.0: The Evolutionary 
Revolution? http: //www.daveyp.com/Liverpool (22/6/2006) 
** Singh, Sukhdev. 2003. Digital Library: Definition to Implementation. Lecture 
delivered at Ranganathan Research Circle, New Delhi, India, 26 July 2003. 
*** Trzeciak, Jeffrey. 2008. Exponential Change in Traditional Organizations. 
Proceeding of Virtual and Physical Libraries in the 21
st
Century: Challenges 
For Library Leaders. Shantou University, Shantou China, 18-22 April 2008.
****Horton, Forest W. Understanding Information Literacy: A Primer. Information 
for All Programme, Communication and Information Sector. Paris: UNESCO, 
2007.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar