17 Maret 2009

PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN SEBAGAI SARANA PUSAT SUMBER INFORMASI MASA DEPAN

Pendahuluan
Para Pakar Ilmu Pengetahuan dan teknologi serta masyarakat belajar, pada umumnya mempunyai aktivitas gerak yang sulit dibatasi oleh ruang dan waktu, idealisme yang luas, tanpa batas dimensi, bahkan berusaha menguasai jagat raya. Keseluruhan aktivitas belajarnya tersebut membutuhkan informasi yang tepat, cepat, akurat, dan valid. Siapakah yang mampu memberi informasi terhadap mereka?. Informasi yang mampu mendukung dan memperkuat setiap kreasi logika untuk suatu temuan-temuan?. Jane Linder (1989) mengatakan bahwa sebenarnya ada institusi dan orang-orang yang mampu memberikan informasi yang dibutuhkan oleh para pakar ilmu pengetahuan dan teknologi serta masyarakat belajar untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka, yaitu perpustakaan, pusat dokumentasi dan informasi serta para pustakawannya. Dari pernyataan Linder tersebut patut dipertanyakan apakah perpustakaan, pusat dokumentasi dan informasi serta para pustakawannya di Indonesia sudah memiliki kondisi seperti yang dinyatakan oleh Linder? Tentu kita sepakat bahwa jawabanya adalah ada yang sudah dan masih banyak yang belum.

Perkembangan bidang teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat dengan adanya perangkat dan sistem komputer, intranet dan internet, memungkinkan aliran data dan informasi dapat diperoleh secara lebih cepat dan mampu menampilkan lebih banyak keragaman koleksi serta dengan tampilan yang menarik. Perpustakaan sebagai pusat sumber informasi sebaiknya segera memanfaatkan kesempatan yang baik ini, apabila tidak ingin ditinggalkan oleh penggunanya. 

Disamping itu, pandangan organisasi di Abad 21 berbagai jenis organisasi termasuk organisasi pemerintahan, organisasi sosial, organisasi pendidikan, dan lain-lain, telah menghadapi perubahan dengan variasi, intensitas dan cakupan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Organisasi termasuk perpustakaan harus selalu peka terhadap aspirasi, keinginan, tuntutan dan kebutuhan berbagai kelompok dengan siapa organisasi berinteraksi. Berbagai kelompok tersebut dikenal dengan istilah “ Pihak-pihak yang berkepentingan (Stakeholders)” seperti : para pemberi mandat atau penyandang dana, para pustakawan dan staf perpustakaan, pengguna jasa perpustakaan, dan vendor atau rekanan, dan lain-lain, untuk dikelola oleh para kepala perpustakaan menjadi “ Shareholder”. Dengan demikian para pengelola perpustakaan dituntut untuk melakukan “perubahan cara pandang” terhadap sistem organisasi atau bilamana perlu melakukan “pengembangan Organisasi dan manajemen perpustakaan” untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi, dan kemampuan beradaptasi dengan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berubah. Dengan demikian, pengembangan perpustakaan dimasa depan tidak hanya dengan menerapkan teknologi informasi. Namun, perlu diikuti oleh penerapan manajemen dan organisasi yang lebih baik.


Perpustakaan dari Masa ke Masa



Perpustakaan

Tradisional


Gedung/ruangan dengan kumpulan koleksi buku

- Tidak dilakukan kataloging

- Belum ada tenaga fungsional pustakawan

Perpustakaan 

Semi Modern






 

- Kataloging (indexing) dilakukan secara manual

- Telah memiliki pustakawan




Perpustakaan

Modern


 - Kataloging dan layanan sirkulasi dengan

bantuan komputer (automasi)




Perpustakaan

Digital


 - Koleksi tidak hanya dalam bentuk

kertas, namun juga dalam

bentuk file digital




Perpustakaan

Virtual/ Maya


 - Seluruh koleksinya dalam bentuk digital (e-dokumen)

- Dapat diakses melalui internet




Perkembangan perpustakaan dari masa ke masa mengalami perkembangan yang signifikan, pada dasarnya antar perpustakaan di seluruh dunia dapat berkomunikasi melalui jalur elektronik mengikuti perkembangan tehnologi informasi. 

Apabila para pustakawan dapat memanfaatkannya, sebenarnya kerjasama antar perpustakaan perguruan tinggi atau lembaga ilmiah lainnya dapat saling memberikan informasi seluruh perkembangan ilmu pengetahuan dan atau kekayaan informasi lainnya, sehingga apabila informasi ilmu pengetahuan itu diperlukan tinggal memeriksa lewat website (internet) dan mencetaknya. Masalahnya kesepakatan-kesepakatan tentang saling menggunakan informasi yang dimilikinya sangat tergantung pada keterbukaan informasi tersebut untuk diambil dan dipergunakan oleh setiap orang dan semua fihak. Apabila asset informasi ilmu pengetahuan itu bersifat general dan terbuka maka networking lewat media elektronik dengan teknik penyimpanannya memerlukan keterbukaan untuk diketahui oleh semua fihak yang memerlukan. 


Jika antar perpustakaan misalnya antar perguruan tinggi seluruh dunia, utamanya di Indonesia saja sudah bisa memberikan ciri keterbukaan dan saling komunikasi dan terprogram dengan menggunakan sarana prasarana digital, maka bukan barang tidak mungkin isolasi yang mungkin dialami oleh perguruan tinggi tertentu akan tembus terbuka semua menjadi informasi dunia (global information) dan knowledge networking segera terbangun (to construct).


Jejaring Ilmu Pengetahuan (Knowledge Net Working)


Era global adalah era keterbukaan, ide gagasan dan sifat keinginan tahu manusia menjadi pendorong untuk didiskusikan dan ditunjukkan serta diperdebatkan secara terbuka tanpa mengenal batas wilayah dan kenegaraan. Siapa saja yang secara konseptual dan metodis telah mampu membuktikan temuannya menurut persyaratan internasional tanpa ragu-ragu mengusulkan kepada badan internasional tentang hak kekayaan intelektualnya serta mengakui sebagai hak patentnya artinya barang siapa yang menggunakan kekayaan intelektualnya itu diharuskan membayar atau dikenakan charge atas penggunaan kekayaan intelektualnya tersebut. Kekayaan intelektual tersebut dapat saja dikomunikasikan lewat media elektronik, boleh saja meng-adopt teknologi tersebut namun kemudian dilegalkan dan dikenakan pembayaran tertentu.


Perpustakaan sadar atau tidak sadar menggunakan media elektronik untuk saling komunikasi dan saling informasi dengan menggunakan teknologi informasi yang seharusnya program-program yang dipergunakannya dikenakan pembayaran terhadap pemakainan media elektronik tersebut. Kemasan-kemasan yang dibangun dan diinformasikan kepada rekan perpustakaan seluruh dunia lewat media elektronik tersebut (website) memerlukan biaya yang tidak kecil, namun termasuk biaya yang relatif rendah jika disadari konsumen sadar bahwa dia berada di hutan jejaring ilmu pengetahuan yang tidak mengenal batas.


Jejaring ilmu pengetahuan melalui jalur perpustakaan ini memerlukan ahli pustakawan yang mampu menyusun atau membangun jejaring dengan metoda yang setiap pengguna atau konsumen dapat keluar masuk hutan ilmu pengetahuan yang para pustakawannnya telah menata katalog menurut bidang ilmu pengetahuan, sehingga para pengguna dapat memilah-milah ke hutan mana agar mereka dapat informasi yang diinginkan secara efisien.


Temuan ilmu pengetahuan umumnya sering dikemukakan secara terbuka, selain untuk mengumumkan pada sesama rekan tentang temuannya manfaat bagi manusia beserta kelemahannya juga dapat dipergunakan untuk mencari pembanding uji kebenaran temuan tersebut apakah merupakan temuan satu-satunya atau ada informasi lainnya yang senada. Respon sesama ilmuwan akan memberikan uji kebenaran dan diskusi yang menghasilkan temuan atau ide gagasan baru yang kemudian dipakai untuk pengembangan selanjutnya. Proses pembelajaran dan proses saling informasi dan diskusi antar ilmuwan ini memerlukan teknologi informasi yang dewasa ini lewat digital dapat dilaksanakan dengan cepat dan akurat, masalahnya penguasaan teknologi ini memerlukan keahlian dan sosialisasi dan program sesama institusi dengan menggunakan istilah dan program-program yang saling dapat di adop oleh institusi dan sdm yang menggunakannya.


Semua perpustakaan di perguruang tinggi, LIPI, lembaga penelitian/ research , demikian pula perpustakaan umum dan perpustakaan khusus yang ada di pemerintahan baik pusat, propinsi, kabupaten, kota sampai ke pedesaan seharusnya telah mulai membuat jejaring yang bersifat umum, artinya setiap pengguna (konsumen informasi) dapat memanfaatkan institusi tersebut sebagai pusat pembelajaran dirinya. Jika seluruh warga baik ilmuwan, masyarakat belajar (termasuk mahasiswa, siswa dan dosen/guru), peneliti, karyawan, stakeholders lainnya telah mendapatkan informasi serta pedoman penggunaan jejaring ilmu pengetahuan tersebut, maka setiap orang yang mendapatkan kesulitan dan kebingungan serta memerlukan informasi segera mencari informasi ke perpustakaan yang telah berfungsi sebagai pusat sumber informasi.

Pustakawan dan Kualitas dan Harapan 


Di perguruan tinggi perpustakaan dikenal sebagai jantungnya perguruan tinggi, sebab perpustakan merupakan unit pelaksana teknis yang melakukan supporting terhadap proses pembelajaran. Perguruan tinggi yang merupakan lembaga pendidikan dengan paradigma peningkatan kualitas pembelajaran memerelukan perpustakaan bukan saja untuk pusat pembelajaran mahasiswa dan dosen. Para dosen sebelum mengkomunikasikan proses belajar mengajarnya kepada para mahasiswa, sudah seharusnya mengenal terlebih dahulu apa isi perpustakaan yang berkaitan dengan bidang ilmu yang diajarkannya. Artinya apa yang diberikan kepada mahasiswa juga mencakup perluasan ilmu dan wawasan mahasiswa tentang ilmu pengetahuan itu sendiri, sehingga kualitas penguasaan ilmu pengetahuan dan wawasan ilmu yang diterimanya benar-benar bermanfaat bukan saja bagi kualitas kelulusan tapi juga setelah diterima di lapangan kerja dapat diterapkan dan berguna bagi lapangan kerja tersebut. 


Perguruan tinggi bukan saja terbatas pada proses pembelajaran mahasiswa dan dosen saja, namun juga berfungsi sebagai pengembang ilmu dan penerap ilmu yang bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan serta teknologi. Oleh karena itu perpustakaan selain melayani dosen, mahasiswa juga melayani peneliti dan anggota masyarakat lainnya yang memerlukan informasi ilmiah dan atau literatur-literatur yang memuat bidang ilmu, teori, konsep, terapan dan berbagai acuan teknologi yang tersedia. Pada dasarnya perpustakaan bermuatkan banyak informasi ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi umum lainnya yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu perpustakaan yang baik seharusnya terbuka untuk melayani kebutuhan seluruh lapisan masyarakat terhadap informasi yang diperlukannya, jika di perpustakaannya tidak tersedia, perpustakaan seharusnya mampu memberi informasi kemana masyarakat yang memerlukan informasi tersebut pergi mencari. 


Salah satu komponen penting dari perpustakaan adalah pustakawan, komponen ini sangat diperlukan untuk memberikan pelayanan (jasa) kepada pengguna perpustakaan sampai mampu memberikan tingkat kepuasan terhadap masyarakat yang dilayani. Pelayanannya sudah barang tentu bertingkat sesuai dengan kebutuhan/keperluan yang dilayani, peralatan yang dipergunakanpun bertingkat mulai dari manual sampai dengan digital, paling tidak para pustakawan mampu mentransfernya.


Pustakawan seharusnya merupakan tenaga fungsional yang statusnya tidak berbeda dengan tenaga profesional lainnya, misalnya dosen, hakim, jaksa, dokter dan tenaga profesiolnal lainnya. Oleh karena itu masa depan seorang pustakawan harus mampu menempa dirinya menjadi seorang profesional yang mampu memberikan jasa dan memberi pelayanan yang memuaskan kepada pelanggannya, baik mengggunakan maupun mentransfer dengan peralatan manual ataupun digital, teknologi tradisional ataupun teknologi elektronika yang canggih. Kepuasan pelanggan terhadap pelayanan teknologi, informasi baik jejaring ilmu pengetahuan maupun informasi umum yang dibutuhkan pelanggan harus mampu dipilah-pilah sesuai dengan kebutuhannya.


Harapan ke depan adalah perpustakaan diharapkan memiliki citra yang dipergunakan sebagai wahana penyimpan informasi ilmu pengetahuan, informasi umum dan informasi teoritis maupun berbagai hasil penelitian, baik penelitian murni maupun penelitian terapan kepada pelanggan. Selain daripada itu setiap simpanan sewaktu-waktu dapat diinformasikan maupun diakses oleh setiap pengguna sehingga memberikan acuan sebagai bukti bahwa ilmu pengetahuan tersebut telah pernah diteliti dan dapat dipakai untuk acuan penelitian lebih lanjut.


Etika ilmu pengetahuan diperlukan untuk segera disosialisasikan agar tidak terjadi plagiat atau semacamnya, sehingga masyarakat pembelajaran tidak ada niatan untuk mencuri ilmu pengetahuan hasil pikiran, ide dan atau gagasan orang lain, melainkan saling menghargai dan menghormati. Nilai-nilai moral dan sikap etis ini diperlukan dimiliki oleh semua anggota masyarakat utamanya masyarakat pembelajaran atau masyarakat ilmiah. 


Pustakawan perlu mengemukakan etika ini di perpustakaan yang dikelola atau diasuhnya, agar supaya keterbukaan ini dapat dijaga dan dijamin tidak terjadi proses dan keinginan dari pengguna untuk melakukan plagiat, namun mendorong terjadinya proses pembelajaran yang dapat dikembangkan dan mampu mengemukakan ide baru yang berbasiskan ide-ide yang sudah ada sebelumnya ataupun diinspirasikan oleh konsep atau teori yang ada dalam buku yang tersimpan dalam perpustakaan.


Ketidak raguan para ilmuwan untuk menyimpan dan mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dan temuan-temuannya merupakan pembuka cakrawala pengembangan dan memperkaya ilmu pengetahuan menurut bidang ilmu maupun pengetahuan umum lainnya. Era keterbukaan ini memang memerlukan wahana untuk menyimpan dan mengkomunikasikan segala macam ilmu pengetahuan dalam negeri, luar negeri, hasil pemikiran, ide, gagasan maupun hasil penelitian baik murni maupun terapan. 


Wahana harapan yang diperlukan untuk mewadahi keinginan tersebut secara ideal bernama Perpustakaan beserta seluruh komponennya, baik dengan sistem tradisional sampai dengan digital.


Penutup


Perpustakaan adalah merupakan jantung perguruan tinggi, seharusnya juga merupakan wahana dan bangunan yang ada di seluruh lapisan masyarakat, seluruh wilayah tanah air dan seluruh pelosok bumi pertiwi ini. Wahana dan bangunan ini berfungsi untuk menyimpan informasi dan ide gagasan serta ilmu pengetahuan yang sifatnya tidak terbatas, memiliki kemampuan pula untuk mengkomunikasikan kekayaan tersebut kepada seluruh lapisan masyarakat bangsa. 


Apabila negara berkeinginan keras untuk mencerdaskan bangsanya, maka salah satu wahana yang dibangun dan diperlengkap serta dikembangkan adalah perpustakaan yang berfungsi dengan benar dan baik.


Akhirnya ada harapan ke depan agar perpustakaan bukan hanya sebagai jantung perguruan tinggi, melainkan juga menjadi jantung negara yang berkeinginan untuk mencapai cita citanya antara lain mencerdaskan bangsa.



DAFTAR BACAAN

Cronin, J. J. and Taylor, S. A. 1992. Measuring Service Quality: Reexamination and extention. Journal of marketing, July (Vol.56): 55-68.

Hernon, P and Altman,E. 1995. Service Quality in Academic Libraries. Ablex Publishing Corp., New Jersey.

Jurow. S dan Barnard. S. 1993. Integrating Total Quality Manajement in a Library Setting. The Haworth Press. Inc, USA.

Linder, C. J. 1992. Today a Librarian, Tomorrow a Corporate Intelligence Profesional. Special Libraries Journal, Summer, New Jersey.

McCarty,C .A.1995. Students’ Perceived Effektiveness Using the University Library. Rodman Hall Press,Kingston.

Natadjumena, R.,Junaedi, D.,Soekarman, K. 2000. Pedoman Umum Pengelolaan Perpustakaan Perguruan Tinggi, Perpusnas R.I., Jakarta.

Peoman, Stephan. 1993. Strategic investment guidelines for higher education libraries : Indonesian country report. British Council, International Library and Information Action for Development (ILIAD), London.

Sudarsono, B. 1996. Perencanaan Strategis Perpustakaan Perguruan Tinggi. Penerbit Unika Soegija Pranata, Semarang.

Sulistyo-Basuki. 1998. “Total Quality Management” untuk Perpustakaan, dalam buku Kepustakawanan Indonesia dan sumbangannya kepada masyarakat: Bunga Rampai sekitar Kepustakawanan Indonesia. Penerbit Unika Soegija Pranata, Semarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar