16 Maret 2009

Peran Pustakawan di Abad Elektronik: Impian dan Kenyataan

PENDAHULUAN  
Wacana peran pustakawan di abad elektronik telah berkumandang semakin nyaring 
sehubungan dengan “serbuan” Teknologi Informasi (TI) yang semakin gencar menembus 
demarkasi praktek kepustakawanan konvensional. Dalam diskusi on-line antara beberapa pustakawan Indonesia antara lain mempertanyakan jati din pustakawan, khususnya dalam menghadapi era elektronink itu. Di negara maju wacana 
mi 
telah muncul sejak dasawarsa 1990an, bahkan sebelumnya. Di Indonesia muneulnya wacana 
mi 
memang agak terlambat, namun kenyataan tersebut sekarang tidak terelakkan lagi. Salah satu peyebabnya adalah dengan telah semakin banyaknya perpustakaan di Indonesia menerapkan TI dan tampil di jaringan Internet, atau mengakses berbagai sumber informasi di jaringan global tersebut dalam rangka melayani kebutuhan informasi penggunanya. Internet seakan lalu menjadi tempat tujuan utama dalam menemukan informasi yang diperlukan. Terasa semakin banyak orang mencani informasi di sini. Tidak heran apabila muncul pertanyaan apakah masih dipenlukan lagi perpustakaan apabila semua yang ada di perpustakaan dapat ditemukan dalam Internet. Jawab atas pertanyaan 
mi 
tentunya perpustakaan tetap masih diperlukan. Karena walaupun Internet membenikan lebih banyak dan lebih beragani informasi, narnun ada yang tidak tergantikan oleh Internet daii suatu perpustakan. Dengan demikian perpustakaan penlu bersiap menyesuaikan din hidup berdampingan dalam lingkungan serba elektronik dan jaringan global. Dalam era elektronik 
mi 
lalu muncul berbagai sebutan untuk perpustakaan yang menerapkan TI. Isitilah seperti perpustakaan maya, perpustakaan tanpa dinding, perpustakaan hibrida, perpustakaan digital, dli. kini selalu saja mewarnai kehidupan perpustakaan. Bagi sebagian besar perpustakaan di Indonesia, aplikasi TI seperti di negara-negara yang lebih maju memang masih merupakan impian. Sehingga peran pustakawan dalam situasi seperti itu juga masih merupakan impian. Namun tidak ada salahnya kita mengenal peran-peran baru itu, walaupun masih menjadi mimpi. Sciring dengan tenia pcrtctnuan, makalah 
mi 
mcngawali mimpi tentang peran pustakawan di masa mendatang dengan mcngutip ramalan Dr. Stanley Chodorow tentang peran pustakawan di tahun 2090 yang disampaikan dalam 
Symposium on scholarship in the new information environment 
di Universitas Hardvard, pada tahun 1995 (CRETH, Sheila D, 1996)  
“Today, in the 2090s, no individual scholar or research group can work without a 
librarian as a collaborator. Library science is now a track of the advanced degree in every discipline. It is a track taken by people very much like those who once migrated from academic fields into librarianship, but the name librarian now designates not so much a separate profession as a type of scholar. While every scholar and scientist learns how to use information in the creation of new ideas and new information and while each masters a very substantial body of information, the librarian-scholar or scientist is the discz~linary information specialist. [The librarianj is the eyes and ears of the research community, constantly surveying and mapping the information universe for colleagues. Librarians are the ones who know how to find and use the most up-to-date version of scholarly resources, how long these resources are likely to maintain their current shape and content, and how the process of change works. the corps of librarians 
. . . 
live in departments and research laboratories and have absorbed many of the duties that used to be performed by computer consultants as well as reference librarians. Their names 
are to be found among the authors of most publications.”
  
Bagaimana sikap kita pustakawan di Indonesia dengan pernyataan di atas? Apakah mimpi itu dapat direalisasikan? Tahun 2090 bagi semua yang hadir dalam pertemuan 
mi 
memang benar-benar menjadi impian. Apa yang disebut Standley menu~ut penulis lebih merupakan visi, sehingga patut dipakai sebagai acuan dalarn mengembangkan kepustakawanan di waktu mendatang. Namun sebelum sampai pada realisasi dan visi tersebut, peniu diketahui apa saja yang sudah terjadi dalam praktek kepustakawanan di negara maju. Untuk itu perlu terlebih dahulu di lihat dan di simak berbagai pendapat dan pernyataan sehubungan dengan peran pustakawan dalam lingkungan elektronik. Selain itu perlu pula diidentifikasi kemampuan apa saja yang harus dikembangkan pustakawan guna melakukan peran tersebut. Bagaimana kemudian prakteknya di Indonesia? Yang ingin disampaikan .daiam makalah 
mi 
adalah pandangan seorang praktisi yang sehari-h
ari memang menghadapi gencarnya serbuan “elecronic devices” maupun tuntutan 
sebagian pen ggzzna jasa 
perpustakaan agar layanan informasi menjadi semakin mudah dan cepat. Kalau pernah didengungkan bahwa pustakawan seharusnya dapat memberikan layanan pada pengguna dengan informasi yang tepat 
(right information for the right users), 
nampaknya variabel waktu yang scn~akin cepat sekarang juga Iebih 2 dituntut. Dengan kata lain semboyan itu kini menjadi 
right information, right users and right now. 
Sebenarnya tuntutan atas cepatnya layanan bukan hal yang baru. Namun variabel waktu 
mi 
justru semakin penting karena dampak aplikasi TI dalam kehidupan masyarakat secara luas. Secaraa teoritis perpustakaan harus memakai TI agar tidak ditinggalkan 
sebagian pengguna jasa 
tersebut. Pengalaman menunjukkan bahwa kemampuan sebagaian besar perpustakaan di Indonesia masih terbatas, sehingga harus ada strategi khusus. Sebagai akhir uraian penulis menyampaikan usulan langkah yang perlu segera diambil bersama. PERGESERAN PERAN PUSTAKA WAN Peran pustakawan di era elektronik sebenamya sudah sering disebut dalam berbagai terbitan ataupun artikel. June Abbas membahasnya secara komprehensif dalam artikeinya berjudul: 
The library profession and the internet: implications and scenarios for change. 
Disebut dalarn artikel 
mi 
beberapa peran pustakawan, antara lain adalah:  

 Pustakawan sebagai gerbang baik menuju masa depan maupun masa lalu. 

 Pustakawan sebagai guru atau yang memberdayakan 

 Pustakawan sebagai pengelola pengetahuan 

 Pustakawan sebagai pengorganisasi jaringan sumberdaya informasi 

 Pustakawan sebagai pengadvokasi pengembangan kebijakan infonmasi 

 Pustakawan sebagai patner masyarakat 

 Pustakawan sebagai kolaborator dengan penyediajasa teknologi 

 Pustakawan sebagai teknisi 

 Pustakawan sebagai konsultan informasi. Pembahas lain yang menarik tentang pergeseran peran pustakawan 
mi 
adalah Fytton Rowland. Dia melihat peran 
mi 
bertolak dan fungsi yang secara tradisional dimiliki oleh penpustakaan. Secara umum fungsi tersebut dibedakan menjadi lima fungsi yang sangat tradisional yaitu:  

 pengembangan koleksi dan pengadaan, 

 katalogisasi dan klasifikasi, 

sirkulasi, 

 referensi, 

 preservasi, konservasi dan pengarsipan. Fungsi tersebut dibahas satu-persatu dan dibandingkan pelaksanaannya antara sebelum adanya Internet dan kini, sejak internet dipakai oleh perpustakaan. Menurut dia ketrampilan dan keahlian pustakawan tetap relevan dengan semua fungsi tersebut. Dalam era Internet pengembangan koleksi dan pengadaan saat kini dilaksanakan sebagai upaya untuk mengidentifikasi situs yang sesuai dengan kebutuhan pemakai dan bagaimana  

mengaksesnya. Katalogisasi sekarang disetarakan dengan pembuatan metadata dan berbagai situs dengan harapan agar pemakai lebih mudah menemukan kembaii informasi. Fungsi referensi tetap sebagai titik pusat kegiatan dalam arti tetap menyimak kebutuhan pemakai, memberikan nasihat atau saran menuju sumber informasi terbaik, bagaimana mengaksesnya, dan bagaimana merumuskan strategi pencarian. Preservasi tetap merupakan issue penting yang belum terjawab sepenuhnya, tetapi baik dalam era sebelum Internet dan sesudah Internet upaya 
mi 
bertujuan untuk mempertahankan keberadaan sumberdaya informasi selama mungkin. Hal yang bergeser dan tidak lagi dilakukan adalah sikulasi. Narnun fungsi 
mi 
menjadi kegiatan baru daiam arti membimbing pemakai daiam menggunakan perangkat TI secara optimal untuk menemukan informasi yang dicari. Banyak artikei lainnya yang membahas pergeseran fungsi pustakawan di era electronik 
mi. 
Dengan pergeseran fungsi tersebut dapat disimpulkan bahwa dipenlukan kemampuan baru dalam din seorang pustakawan. Pada tahun 1996, FID melakukan survei dengan tujuan antara lain untuk:  

 menginventarisasi pengetahuan, kompetensi dan ketrampilan profesi informasi modern, termasuk anaiisis atas fungsinya. 

 memakai fakta yang diperoleh guna membangun masa depan profesi informasi. Survei 
mi 
disebarkan atas enam daerah meliputi tiga puiuh satu negara dengan jumlah responden 2618. Sejalan dengan tugas dan tangggungjawab responden diperoieh jenis tugas dan peran responden sebagai berikut:  

 Penelusuran iiteratur 

 
Pendidikan pengguna  

 Manajemen 

Pengolahan bibliografis perpustakaan 

 
Perencanaan dan analisis  

 Refensi dan referal sistem informasi  

 Seieksi dan pengadaan Pengkajian atas kebutuh-  

 Perencanaan sumbendaya an pengguna informasi Manajemen dan adminis-  

 Pemencaran informasi trasi pangkaian data Diperoleh juga masukan jenis tugas lain yang sening juga dikerjakan antara lain: anaiisis kompetitif (intelijen), penyampaian dokumen, manajemen internet, pemasaran, sumberdaya manusia, akuntansi dan penganggaran, pelestanian, penelitian dan mengaj an. Sedang tugas lain yang hanya dilakukan sebagian kecii responden antara lain adalah: mikrografi, dukungan untuk mengambil keputusan, iteligensia antifisial, transfer teknologi, terjemahan, dan meiakukan survei  

KOMPETENSI YANG DIPERLUKAN  
Untuk dapat melaksanakan peran atau fungsi baru tersebut pustakawan penlu memiliki kemampuan khusus. Pertemuan dewan direktur 
Special Libraries Association 
(SLA) dalam sidang tahunan 1996 membahas laporan tentang kompetensi yang penlu dirniliki pustakawan khusus memasuki abad 21. Ada dua jenis kompetensi yang dimaksudkan oleh SLA yaitu kompetensi pnofesional, dan kornpetensi personal. Yang dimaksud dengan kompetensi profesional menyangkut pengetahuan yang dimiliki pustakawan khusus da]am bidan~z sumberdaya informasi, akses inforrnasi, teknologi, manajemen dan riset, serta kemampuan untuk menggunakan bidang pengetahuan sebagai basis dalam membenikan layanan perpustakaan dan informasi. Sedang kompetensi personal adalah ketrampilan atau keahlian, sikap dan nilai van~ memungkinkan pustakawan bekerja secara efisien, menjadi komunikator yang baik, memusatkan perhatianya pada semangat beiajar sepanjang kareernya. dapat mendemonstrasikan nilai tambah atas karyanya, dan selalu dapat bertahan daiam dunia keija yang baru. Selanj utnya kompetcnsi profesional mensvaratkan pustakawan hendaknva  

 mernpunvai pengetahuan atas isi sumberdaya informasi, termasuk kemampuan mengevaluasinya secara kritis. apabila peniu dilakukan penyaningan  

 memiliki pengetahuan subyek khusus yang cocok dan diperlukan oleh organisasi induk atau penggunajasa.  

 mengemhangkan dan mengeiola jasa inforrnasi yang nvaman, nllidah diakses 
dan 
cost effective‟ sejaian dengan arahan stratregis organlsasi.
  

 menyediakan pedoman dan dukungan untuk penggunajasa  

 mengkaii kebutuhan informasi dan nilai tarnbah jasa informasi dan produk 
yang 
memeniih i kebutuhan.  

 menggunakan teknologi informasi yang sesuai untuk mengadakan, mengorgani-sasikan dan memencarkan informasi.  

 menggunakan pendekatan manajernen dan bisnis dalam rnen~komunikasikan anaiemen senior. pentingnYajasa informasi ba2i m  

 rnenghasilkan produk inforrnasi khusus untuk digunakan di dalarn maup.ri di I~r organlsasi. atau oleh pengguna peroran~an.  

 mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan melakukan niset yang herhubun:a~ dengan permasalahan manajernen informasi.  

 secara terus-rnenerus meningkatkan iasa informasi umuk menjawab tan>~n~an can perketnhangan. 

 merupakan anggota dan tim manajemen senior atau konsultan bagi organisasi tentang issue informasi. Sedang kompetensi personal menuntut pustakawan untuk dapat:  

 melakukan layanan prima.  

 meneani tantangan dan melihat peluang baru baik di dalam maupun di luan perpustakaan.  

 melihat dengan wawasan yang luas  

 mencari mitra kerja.  

 meneiptakan lingkungan yang saling menghargai dan mempercayai.  

 memiliki ketrampilan berkomunikasi.  

 bekerja baik dengan sesama anggota tim.  

 membenikan kepemimpinan.  

 merencanakan, membuat prioritas dan fokus pada hal-hal yang knitis.  

 setia dalam belajar sepanjang hidup dan perencanaan kanier pnibadi.  

 memiliki ketrampiian bisnis dan menciptakan peluang baru.  

 mengakui nilai profesional kerjasama dan kesetiakawanan.  

 luwes dan bersikap positif dalam masa yang selalu berubah.  
SITUASI KITA  
Melihat peran dan kornpetensi yang seharusnya dimiliki pustakawan seperti di sebut terdahulu, rasanya menjadi pustakawan itu akan sernakin sulit. Sepertinya pustakawan harus menjadi manusia super. Padahal secara jujtir saja banyak diantara kita pustakawan di Indonesia dalam meniti kanir 
mi 
bukaniah merupakan cita-cita sejak kecil. Apakah pada waktu kecil dahulu kita sudah mengenai perpustakaan? Adakah upaya kita mengenalkan perpustakaan sejak usia dini? Berapa persen diantara kita para pustakawan yang punya anak, membawa anaknya ke perpustakaan dalam rangka rnencani informasi yang rnereka penlukan? Begitu banyak pertanyaan iviendasar yang seharusnya ada jawab 
yang 
jclas hingga dapat dipakai dalam 
meneram+an 
keadaan perpustakaan seperti saat 
mi. 
Perpustakaan di sini iebih dimaksudkan pada perpustakaan  

umum yang seharusnya mencukupi untuk masyarakat luas. Sayang fasilitas 
mi 
dibangun dengan pemahaman yang sangat tipis. Perkembangan TI ternyata juga menjadi beban bagi kebanyakan perpustakaan. Banyak perpustakaan yang merasa hanya dibeni kesempatan untuk melihat semua perkembangan yang canggih namun belum dapat menerapkannya. Keadaan 
mi 
dapat berdampak negatif terhadap praktek pengelolaan perpustakaan tersebut. Perpustakaan juga tersaing dengan penkembangan media elektronika. Apalagi dengan budaya~ baca dan tuiis dan masyarakat kita yang belum rncnggembirakan. Kebánggaan niasyarakat atas perpustakaan pen u ditimbulkan. Namun sebel urn itu apakah kita sendiri yang menyebut din kita pustakawan juga bangga atas perpustakaan kita? Mengingat semua in rasanya nuansa murung menyelimuti kehidupan perpustakaan kita. Akankah kita larut dalam ketidak berdayaan itu? 
-  
Di sisi lain, untuk perpustakaan perguruan tinggi serta perpustakaan khusus ada sebersit harapan yang mulai menggumpal menjadi kenyataan yang lebih baik dengan adanya TI mi. Menurut pengamatan penulis justru perpustakaan perguruan tinggi yang selanjutnya akan menjadi ujung tombak perkembangan perpu~takaan di Indonesia. Potensi perpustakaan perguruan tinggi menjadi ujung tombak perkembangan perpustakaan di Indonesia sangatlah besar. Hal 
mi 
disebabkan karena biasanya perguruan tinggi memiliki kemampuan yang cukup dalam aplikasi dan pengembangan TI. Secara pnibadi penulis rnengharapkan perpustakaan 
perguruan tinggi berhasil “mendongkrak” posisi perpustakaan pada tingkat yang lebih tinggi. 
Untuk 
mi 
memang diperlukan strategi (nasional?) Kata kunci yang sangat penting dan apa yang telah disebut sejak aWal perlu dikemukakan adalah kolaborasi. Kata 
mi 
sekarang menjadi lebih sening disebut, walaupun 
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kolaborasi masih diartikan “kerjasama dengan musuh”. 
Kolaborasi dalam pengertian 
mi 
adalah kerjasama untuk mencapai satu tujuan. Agak berbeda dengan kooperasi yang masih memungkinkan kerjasama antar beberapa pihak dengan sasaran masingmasing yang berbeda. Siapakah yang harus berkolaborasi? Tentu yang pertama adalah para pustakawan sendini. Pada tingkat benikutnya adalah pustakawan dengan profesi lain dalam rnengelola perpustakaan, pusat informasi atau apapun sebutannya bagi insitusi yang menyediakan jasa informasi. Semua pihak saat 
mi 
menasa berkepentingan dalam mengelola insitusi informasm mm. Sebelum merumuskan strategi, perlu dibuat terlebih dahulu peta situasi. Secara umum peta situasi perpustakaan Indonesia terbentang antara dua kutub. Di satu sisi adalah perpustakaan 
yang “siap” memasuki era elektronik, di sisi lain adalah yang perlu “disiapkan” 
untuk masuk dunia tersebut. Di sinilah penlu dilakukan kolaborasi antar pustakawan. Namun dalam masing-masing domain perpustakaan dipenlukanjuga kolabonasi antara pustakawan dan non-pustakawan, termasuk dalam hal 
mi 
para pengguna. Kolaborasi 
antar 
penpustakaan dapat dilakukan dengan memodifikasi kerjasama antar perpustakaan yang sudah 

biasa terjadi. Kolaborasi antar pustakawan dan non-pustakawan 
mi 
yang saat sekarang masih belum selancar apa yang diinginkan. Masih terasa pengkotakan atau saling membuat batas antara dua profesi 
mi. 
Hal 
mi 
dapat disimak antara lain dalam diskusi on-line beberapa pustakawan Indonesia. Hanya penpustaskaan yang lebih dahulu menghayati kolaborasi dengan pihak non-perpustakaan atau non-pustakawan, merekalah yang nampaknya akan lebih cepat mencapai posisi yang lebih tinggi. Bagaimana dengan internal perpustakaan sendiri? Yang dimaksud internal perpustakaan lebih diartikan sebagai kepustakawan Indonesia. Apabila pernah disebut belum samanya persepsi para pustakawan akan jatidininya. maka yang terpentina dilakukan adalah menvarnakan persepsi tersebut. Dalam hal 
mi 
biasanya pemikiran selalu datang dan individu. Interaksi individu dalarn satu wacana untuk mencapai satu kesepakatan dan tujuan akan membentuk kelornpok. Kelompok mm akan dapat berkembang menjadi organisasi pustakawan yang formal. N4aka kalau di Indonesia sudah ada organisas i pustakawan yang formal, maka organisasi tersebut dapat 
memfasilitasi pencarian •jatidiri pustakawan 
Indonesia. Dalam merumuskan jatidiri inipun 
pustakawan 
barns terbuka pada pandangan pihak non

pustakawan. Pangalaman menunjukkan bahwa sening kita 
hanya 
berbicara dengan din kita sendiri. Hingga pihak lain tidak pernah tahu siapakah kita itu. Penn diingatkan di sini bab~va masyarakat kita itu sangat patrimonial maka upaya kita 
sening harus juga disetujui oleh pihak yang „berkuasa‟. Walaupun situasi itu pasti akan berubah 
entah cepat atau lambat, 
narnun 
ada baiknya untuk saat sekarang masih dipertimbangkan dalarn 
menyusun 
startegi. Pembinan perpustakaan di Indonesia ada aturannya. Maka yang bertugas mengatur diharapkan tanggap atas perkembangan yang rasa-rasanya tidak dapat dielakkan lagi. Akan sangat menguntungkan apabila aturan yang dipakai dalam pembinaan perpustakaan dan pustakawan selalu diperbaharui dengan rnendengarkan juga masukan dan yang diatur. USULAN LANGKAH SEBAGAI PENUTUP Sehagai penutup disampaikan usulan langkah pengembangan peran pustakawan Indonesia.  

 Langkah pertarna adalah menyepakati jati din pustakawan Indonesia. Organisasi profesi pustakawan penn memfasilitasi. Dalam mencapai kesepakatan 
mi 
penn dilibatkan berbagai pihak terkait. Ke~iatan inipun dapat dimulai dan kelompok kecil yang sudah biasa berkornunikasi rnenggunakan sarana janingan global. Kesepakatan tersebut perlu segera disosialisasikan di kalangan para pustakawan.  
Kolaborasi antar perpustakaan yang “siap” perlu segera dilakukan dan kemampuan yang telah dimiliki perlu segera di‟share” dengan pihak yang penlu disiapkan‟. Data, informasm. 
dan pengetahuan 
hanya 
akan rnenjadi kekuatan apabila di‟share (kata orang bijak)
  Akhirnya ~vajah manusiawi perlu tetap ditampi]kan dengan cantik dalarn pengelolaan perpustakaan di era elektronik. Perlu ditulis di sini pendapat Dwyers seperti dikutip Clay Hathorn benikut:  
“We play a cultural role, 
“ 
Dwyers 
says, “in the sense that librarians have traditionally 
applied a broader range of knowledge to pieces of 
information. 
I think it’s high tech and high 
touch. Bring 
in 
high tehch, but give 
it 
a human face. And that face 
is 
the face of a librarian”
   
8 REFERENSI  
ABBAS, June (1997) The library profession and the internet: implications and scenarios for change. Tersedia di http://edfu.lis.uitic.edu/review/5abbas.htm1. CRETH, Sheila D (1996) The electronic library: slouching toward the future or creating a new information environment. London: Cavendish Conference Centre, 30 September 1996. Tersedia di http ://www.ukoln. ac .uk/senvices/papers/follett/creth/paper.html HATHORN, Clay (1997) The librarian is dead, long live the librarian. PreText Magazine. Tersedia di http://www.pretext.com/oct97/features/story4. him INTERNATIONAL Federation for Documentation and Information (1996) 
The cttrrent situation: a summary of results from FJD‟s survey of the modern information 
professional. Presentation for FJD, in Graz, Austria, Oct. 23, 1996. Tensedia di http://www. conicyt.cl: 8000/rnipindex him ROWLAND, Fytton (1998) The librarian~ s role in the electronic information environment. Paper presented to the JCSU Press Workshop, Keble College, Oxford, UK, 31 March to2 April 1998. Tersedia di http://www.bodley.ox.ac.uk/icsu/rowlandppr.htm SPECIAL Library Association (1996) Competencies for special librarians of the 
21
St 
century. Submitted to the Board of Directors by the Special Committee on Competencies for Special Librarians. Tersedia di http
 ://www.s1a.or~/professiona1/cornpetencv.htrn1#top
. Jakarta 2 Juni p000 BS.  
onno.vlsm.org/v01/OnnoWPurbo/contrib/aplikasi/pendidikan/peran-
pustakawan
-impian-dan-kenyataan-06-2000.rtf - 
Halaman sejenis
  9 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar